Tuesday, 7 August 2018

Macam-Macam Routing Protokol dan perbandingan Jalur Routing

Hello World; Malam Fans, Please Say Hello Haters ;*
untuk Basic yang ada di dalam Materi SG Diary Config akan saya percepat updatenya, karena Basic Artikel ini berguna untuk kalian yang baru Mulai menyentuh dunia Jaringan.
untuk para Master silahkan skip artikel Basic ini ^_^ atau boleh unfollow artikel ini akwkawk.

Routing protocol adalah protokol yang terdapat pada routing dinamik (dynamic routing). Routing protocol bertugas untuk menentukan jalur terbaik yang akan dilewati oleh data serta memperbarui informasi tabel routing apabila terjadi perubahan jaringan.

Terdapat macam-macam routing protocol yang dapat kita gunakan untuk melakukan routing dinamik. Setiap protokol memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Beberapa routing protocol juga menggunakan sebuah algoritma yang bertugas untuk melakukan kalkulasi untuk mendapatkan jalur terbaik (best path). 

Sebelum membahas ke masing-masing routing protocol, akan saya bahas klasifikasi dari routing protocol terlebih dahulu. Silahkan lihat gambar di bawah ini (apabila kurang jelas bisa diklik) :

Jadi dynamic routing protocol itu terbagi menjadi 2, yakni Interior Gateway Protocol (IGP) dan Exterior Gateway Protocol (EGP).

Interior Gateway Protocol
 

IGP adalah routing protocol yang digunakan pada jaringan yang terletak dalam satu AS (Autonomous System) yang sama. Autonomous System sendiri adalah sekumpulan jaringan yang dikelola dan dikendalikan oleh otoritas administratif tunggal yang menggunakan kebijakan routing internal yang sama. Contoh dari autonomous system dapat kita lihat pada jaringan kampus, jaringan kantor yang memiliki banyak cabang, dan jaringan ISP. Sementara contoh dari IGP antara lain : RIP, EIGRP, OSPF, IS-IS.

Exterior Gateway Protocol
 

Jika IGP digunakan untuk menghubungkan router-router yang terletak dalam satu AS yang sama, maka EGP merupakan kebalikannya, yakni routing protocol yang digunakan untuk menghubungkan jaringan (routing) antar aoutonomous system. Routing protocol ini digunakan untuk routing ke luar AS oleh karena itu disebut exterior gateway protocol. Contoh dari EGP adalah BGP (Border Gateway Protocol).

Di dalam Interior Gateway Protocol masih terbagi lagi menjadi 2 jenis, yakni distance vector dan link state. Distance vector merupakan jenis routing protocol yang melakukan pemilihan jalur routing berdasarkan jarak dari router ke tujuan (hop count). Contoh distance vector adalah : RIP dan EIGRP. Sementara Link state adalah jenis routing protocol yang melakukan pemilihan jalur berdasarkan kondisi link. Contoh link state protocol adalah : OSPF dan IS-IS.

Setelah membahas klasifikasi routing protocol, berikut akan saya jelaskan masing-masing routing protocol yang telah dibahas di atas :

1. RIP (Routing Information Protocol)
 

RIP merupakan routing protocol jenis distance vector. Pemilihan jalur routing berdasarkan jarak terdekat dari router ke tujuan. Jarak dari router ke tujuan ini disebut dengan hop count sedangkan jarak antar router disebut hop. RIP terdiri dari versi 1 dan 2.

RIPv2 merupakan penyempurnaan dari RIP versi pertama. Jika pada RIP versi satu tidak mendukung VLSM, maka pada RIPv2 ini sudah mendukung hal tersebut. Akan tetapi, RIPv2 hanya bisa menerima routing update dari sesama RIPv2, sedangkan RIP versi satu dapat menerima routing update dari RIPv1 maupun RIPv2.

Baik RIP versi satu mapun RIPv2 merupakan open standart protocol yang berarti dapat digunakan pada perangkat yang berbeda vendor. RIP cenderung digunakan pada jaringan yang berskala kecil hingga sedang karena RIP memiliki keterbatasan hop maksimal 15. Jadi apabila jarak antar router ke tujuan melebihi 15 hop maka paket akan dibuang sehingga tidak sampai ke tujuan. Oleh karena itu RIP akan sulit jika digunakan pada jaringan berskala besar.

Kelebihan :
- Mendukung VLSM dan CIDR (RIPv2)
- Mudah dalam konfigurasi
- Tidak kompleks
- Mampu menonaktifkan auto-summary route (RIPv2)
- Mendukung mekanisme autentikasi

Kekurangan :
- Tidak mendukung VLSM dan CIDR (RIPv1)
- Memiliki batas maksimal 15 hop
- Tidak bisa menerima update informasi dari RIP versi satu (RIPv2)
- Proses convergence yang lambat
- Melakukan update informasi terus menerus sehingga dapat membuat trafik menjadi padat

convergence adalah proses pada router untuk terkoneksi dengan router lain untuk saling bertukar informasi seperti routing update. Proses ini terjadi pertama kali saat router dihubungkan dengan router lain melalui konfigurasi routing dan akan terjadi lagi apabila terjadi perubahan kondisi jaringan, seperti link down atau penambahan link baru.

2. EIGRP (Enhanced Interior Gateway Routing Protocol)
 

EIGRP merupakan Cisco Proprietary, yakni routing protocol yang hanya terdapat pada router Cisco. Meskipun termasuk dalam distance vector routing protocol, namun EIGRP tidak menggunakan hop count untuk melakukan pemilihan jalur routing. EIGRP menggunakan beberapa parameter yang kemudian dikalkulasi sehingga menghasilkan hasil yang akan digunakan untuk menentukan jalur routing. Adapun parameter- parameter yang digunakan oleh EIGRP antara lain : bandwidth, load, delay, reliability. 

EIGRP menggunakan algoritma DUAL (Diffused Update Algorithm) untuk mengkalkulasi jalur routing yang akan digunakan. Selain itu, EIGRP juga melakukan kalkulasi untuk menentukan jalur cadangan (backup), jadi apabila jalur utama yang digunakan tiba-tiba down, EIGRP akan otomatis menggunakan jalur backup tadi. Jalur backup pada EIGRP ini disebut Feasible Successor

Untuk keperluan routing, EIGRP mengelola tiga buah tabel, yaitu : tabel routing (routing), tabel neighbor (neighbor table), dan tabel topologi (topology table). Routing table berisi kumpulan entry routing yang digunakan oleh router. Neighbor table berisi informasi router-router yang terkoneksi secara langsung (directly connected), sedangkan topology table berisi keseluruhan jalur routing yang terdapat dalam topologi jaringan. EIGRP ini cocok digunakan untuk jaringan berskala kecil hingga menengah.

Kelebihan :
- Mendukung VLSM dan CIDR
- Memiliki hop count maksimal 224
- Proses convergence yang cepat
- Memiliki jangkuan network yang lebih luas dari RIP
- Mampu menonaktifkan auto-summary router

Kekurangan :
- Merupakan Cisco Proprietary sehingga hanya dapat digunakan pada Router Cisco
- Melakukan update informasi terus menerus
- Menggunakan lebih banyak resource router

3. OSPF (Open Shortest Path First)

OSPF merupakan link state routing protocol dimana pemilihan jalur routingnya menggunakan kondisi link. OSPF akan memberikan harga (cost) untuk setiap link yang ada. Cost yang memiliki nilai paling kecil akan dijadikan sebagai acuan untuk menentukan jalur routing. OSPF menggunakan algoritma Djikstra untuk menentukan jalur serta menghasilkan peta topologi jaringan sehingga OSPF akan mengetahui seluruh jalur yang ada pada jaringan tersebut.

Pada OSPF terdapat konsep area yang bertujuan untuk mengurangi penyebaran paket LSA (Link State Advertisment) yang nantinya akan digunakan untuk bertukar informasi routing update. Terdapat sebuah area yang harus ada dalam setiap konfigurasi OSPF, yakni area 0 atau disebut area backbone.

Selain area backbone, kita dapat membuat area kita sendiri, misal area 1, area 15, area 30, namun area-area tersebut harus terhubung ke area backbone. Untuk menghubungkan area-area yang kita buat sendiri dengan area backbone perlu terdapat sebuah router yang berperan sebagai ABR (Area Border Router). Router ini menjadi penghubung antara area backbone dengan area lain.

Selain ABR, terdepat beberapa fungsi dan peran yang dimiliki router pada jaringan OSPF :

1. Internal Router, adalah router yang keseluruhan interface/linknya terletak dalam satu area.
2. Backbone Router, adalah router yang salah satu link atau seluruhnya terletak di area backbone
3. Autonomous System Boundary Router, adalah router yang salah satu interface/linknya mengarah ke jaringan yang menggunakan routing protocol selain OSPF.

Kelebihan :
- Digunakan pada jaringan berskala besar.
- Mendukung VLSM dan CIDR
- Tidak memiliki batasan pada hop count (unlimited hop count)
- Merupakan open standart protocol sehingga bisa digunakan pada vendor yang berbeda
- Proses convergence yang cepat
- Mendukung mekanisme autentikasi
- Hanya melakukan update ketika terjadi perubahan jaringan

Kekurangan :
- Mengkonsumsi banyak resource
- Membutuhkan perencanaan dalam mendesain dan mengimplementasikannya dalam jaringan

4. IS-IS (Intermediate System - Intermediate System)
 

IS-IS merupakan link state routing protocol yang termasuk dalam kategori IGP (Interior Gateway Protocol). IS-IS menggunakan algoritma Dijkstra seperti OSPF untuk menentukan jalur routing. Pada IS-IS juga terdapat konsep area seperti OSPF, namun area pada IS-IS berbeda dengan area pada OSPF.

Jika pada OSPF, antar area dipisahkan oleh interface yang berbeda area, maka pada IS-IS, antar area dipisahkan oleh link yang menghubungkan router pada area satu dengan router pada area lain. Dengan kata lain, satu router hanya akan memiliki satu area, namun satu area bisa terdapat beberapa router.

Ilustrasi area pada OSPF dan IS-IS
Selain konsep area, terdapat pula istilah level pada IS-IS, dimana terdapat level 1, level 2, dan level 12 (level satu dan dua). Level 1 merupakan intra-area router yang hanya mengetahui jalur routing dalam satu area. Level 2 merupakan backbone router, mengetahui seluruh jalur routing baik intra-area maupun inter area. Level 12, yakni router yang menerapkan kebijakan baik level 1 maupun level 2. Router dengan level 1-2 akan memiliki dua database, satu untuk level 1, satu lagi untuk yang level 2.

Kelebihan :
- Memiliki kemanan yang lebih terhadap informasi routing update
- Mendukung VLSM dan CIDR
- Proses convergence yang cepat
- Scalable
- Hanya melakukan update ketika terjadi perubahan jaringan

Kekurangan :
- Konfigurasi lebih rumit

5. BGP (Border Gateway Protocol)
 

BGP merupakan satu-satunya routing protocol yang berfungsi sebagai exterior gateway protocol. BGP menghubungkan router-router yang berbeda AS. BGP terletak di bagian terluar dari suatu AS.

BGP termasuk dalam kategori advanced distance vector, namun kenyataannya dalam pemilihan jalur, BGP tidak hanya menggunakan acuan jarak, namun juga menggunakan parameter dan atribut lain yang lebih kompleks. Bahkan ada yang menyebut BGP sebagai path vector routing protocol karena BGP tidak hanya menentukan jalur terbaik (best path) tapi juga membentuk mekanisme routing yang bebas dari routing loop. BGP sering digunakan untuk koneksi antar ISP. Dalam penerapannya nanti, akan ada kebijakan-kebijakan antara pihak yang menggunakan BGP, sehingga akan mempengaruhi konfigurasi dari BGP itu sendiri.

Kelebihan :
- Lebih powerfull dari routing protocol yang lain karena BGP berfungsi sebagai Exterior Gateway Protocol
- Mendukung VLSM dan CIDR

Kekurangan :
- Konfigurasi yang lebih kompleks

Perbandingan Jalur Routing RIP dan EIGRP

Seperti yang kita tahu, routing information protocol (rip) dan enhanced interior gateway routing protokol (eigrp) merupakan jenis routing protokol yang digunakan ketika kita akan melakukan routing dinamik. RIP merupakan open protocol sedangkan EIGRP merupakan cisco proprietary. Keduanya sama-sama distance vector routing protokol, namun masing-masing protokol (rip ataupun eigrp) menggunakan parameter yang berbeda untuk menentukan jalur routingnya.

Jika dilihat dari jenis keduanya yakni distance vector protocol, seharusnya pemilihan jalur routing didasarkan pada jumlah hop yang dilalui oleh paket (hop count). Namun apakah eigrp juga menggunakan hop count sebagai dasar dalam menentukan best path ? Artikel ini akan membahas  mengenai perbandingan antara RIP dan EIGRP dalam menentukan jalur yang akan  dilewati paket untuk sampai ke tujuan.

Sebelum membandingkan rip dan eigrp, kita bahas sedikit tentang distance vector terlebih dahulu ya. Apa itu distance vector ? Distance vector merupakan salah satu jenis routing protocol. Routing protocol hanya ada pada routing dinamik. Distance vector menggunakan paramater "jarak (distance)" dalam menentukan pemilihan jalur lewatnya  paket. Router-router yang menggunakan distance vector routing memanfaatkan router di dekatnya (neighbor) untuk memperoleh informasi jalur routing menuju network yang lain.

Distance vector tidak dapat mengetahui secara pasti jalur-jalur yang harus dilalui untuk menuju ke sebuah network yang jauh (melewati banyak router). Ia hanya memanfaatkan informasi yang diterima dari router didekatnya saat melakukan update tabel routing. Lanjut ke pembahasan rip dan eigrp ya.

Perbandingan Jalur Routing
Berikut adalah topologi yang akan digunakan untuk menjelaskan perbandingan rute pada rip dan eigrp. Topologi pertama menggunakan routing rip. Untuk konfigurasi routingnya tidak akan saya bahas karena saya yakin kalian sudah bisa mengkonfigurasinya.


Topologi RIP
Setelah semua router dikonfigurasi routing rip, lakukan pengecekan dengan menggunakan perintah show ip route maupun show run | begin rip . Pastikan routing rip sudah dikonfigurasikan. Kemudian lakukan trace jalur dari PC A ke PC B menggunakan perintah tracert. Hasilnya adalah seperti berikut :

Untuk sampai ke PC B, paket dari PC A melewati jalur RA-R4-R5-RB. Hal ini sesuai dengan karakter distance vector yakni memilih jalur yang jumlah routernya lebih sedikit. Kalian juga dapat mengeceknya menggunakan mode simulasi pada cisco packet tracer karena akan terlihat jelas router mana saja yang dilewati oleh paket.

Selanjutnya adalah topologi routing EIGRP. Silahkan konfigurasi routing eigrp pada setiap router yang ada.

Topologi EIGRP
Lakukan verifikasi menggunakan perintah show ip route maupun show run | begin eigrp . Kemudian trace jalur dari PC A ke PC B menggunakan perintah tracert. Berikut adalah hasil tracert dari PC A ke PC B :

https://2.bp.blogspot.com/-P5I5XmBHmGQ/WjNw1UudGPI/AAAAAAAABxI/VTjUtYl9J2A4XqjnZ8A0MnhZ9RVyPpKYACLcBGAs/s1600/eigrp_tracert.jpg
Sudah melihat perbedaannya jika dibandingkan dengan hasil tracert pada routing rip tadi ? Jika belum akan saya bantu jelaskan. Dilihat dari hop-hop yang dilewati oleh paket, terlihat bahwa jalur yang digunakan oleh paket adalah RA-R1-R2-R3-RB alias paket melewati router-router yang terletak di atas. Kok paket malah melewati jalur yang banyak routernya ya ? Bukankah kalau distance vector itu lebih memilih jalur yang sedikit routernya ? Lanjut ke bagian penjelasan.

Penjelasan
Di awal tadi saya mengatakan bahwa rip dan eigrp merupakan distance vector routing protocol. Meski begitu, rip dan eigrp menggunakan parameter (metric) yang berbeda dalam pemilihan jalur. RIP menggunakan metric hop count, yakni pemilihan jalur berdasarkan jarak yang paling dekat. Apabila dalam jaringan terdapat dua jalur untuk menuju ke sebuah network, maka rip akan memilih jalur yang jumlah routernya paling sedikit. Inilah yang disebut dengan hop count.


Sedangkan eigrp menggunakan metric composite yang didasarkan pada nilai bandwidth dan delay (sebenarnya masih ada parameter lain, namun yang menonjol adalah dua parameter tersebut) dari sebuah link. Link adalah koneksi antara dua router.

Sekarang masuk ke penjelasan dari topologi di atas tadi. Pada topologi tersebut terdapat dua jalur yang bisa dilalui paket dari PCA untuk bisa sampai ke PCB. Ada jalur atas dan jalur bawah. Jalur atas terdapat 3 router, sementara jalur bawah terdapat 2 router. Hasil pengecekan pada routing rip menunjukan bahwa rip memilih jalur yang bawah untuk melewatkan paket menuju PCB. Kenapa ?

Karena jalur yang di bawah hanya terdiri dari 2 router, dan karena rip berpedoman pada hop count maka rip akan lebih memilih jalur bawah karena jumlah router yang harus dilewati paket lebih sedikit daripada jalur yang di atas. Jalur atas harus melewati 4 router (R1-R2-R3-RB) untuk sampai ke tujuan, sedangkan jalur bawah hanya perlu melewati 3 router (R4-R5-RB).

Jalur routing pada topologi RIP
Selanjutnya adalah penjelasan pada topologi EIGRP. Ingat, eigrp menggunakan metric yang berbeda dari rip, bukan hop count. Inilah istimewanya eigrp. Meskipun termasuk distance vector, namun eigrp memiliki metric tersendiri.

EIGRP menggunakan kalkulasi antara bandwidth, delay, reliability, dan load untuk menentukan jalur. Coba lihat lagi topologi pada routing eigrp di atas. Antara jalur atas dan bawah memiliki bandwidth yang berbeda. Jalur atas memiliki bandwidth sekitar 208 Mb/s sedangkan jalur bawah hanya sekitar 3,6 Kb/s (Bandwidth sengaja saya set demikian dan hanya untuk contoh) .

Eigrp akan cenderung  memilih jalur yang memiliki bandwidth besar meskipun jumlah router yang harus dilewati banyak. Jalur dengan jumlah router yang lebih sedikit belum tentu lebih cepat. Jika bandwidth yang tersedia kecil, maka jalan yang dilewati paket akan sempit. Sebaliknya, jalur yang memiliki bandwidth besar dapat menyediakan jalan yang lebih lebar sehingga paket lebih leluasa untuk lewat.

Jalur Topologi EIGRP
Kesimpulan
RIP dan EIGRP merupakan distance vector routing protocol namun keduanya menggunakan metric yang berbeda. Metric adalah parameter yang digunakan router untuk menentukan jalur routing. RIP menggunakan metric hop count yang mengacu pada jumlah router yang harus dilewati oleh paket agar sampai ke tujuan. Sedangkan eigrp menggunakan composite metric yang mengacu pada nilai bandwidth dan delay sebuah link. Meskipun jumlah router yang dilewati banyak namun jika bandwidth yang tersedia cukup besar maka itulah yang akan dipilih. 


Sekian Artikel Receh pada postingan ini hehhee, semoga bermanfaat, dan bisa membantu kalian.
Hahaha ya begitu dah , sekian tutorial ringan kali ini. itung2 buat nambah wawasan dan santay2 ngopi sambil ngoprek ^_^ 


owh iya, Bila ada Link atau gambar pada Artikel Blog ini ada yang rusak/Mati, harap lapor disini
 

Stay Cool and Keep ./Crotz , gaes <(")
bila ada kesalahan mohon di maafkan dan dibenarkan di kolom komentar kak.
bila ada kritik, dan pertanyaan langsung aja kak ke wall fanspage kami: TKJ CYBER ART
Nue cuma niat untuk Share Tutorial, yg bertujuan utk membantu para pemula kek Nue :')
Sekian dan semoga bermanfaat .. terimakasih 


Thanks to [Refrensi]:
cisco.com


./Nuenomaru







Visit and follow :

FP         : TKJ Cyber Art

G+         : TKJ Cyber Art
youtube : TKJ Cyber Art
BBM      : C0018D1A2
Line       : http://line.me/ti/p/%40hjl8740i


EmoticonEmoticon